Geliat Perbankan Syariah di Indonesia
Pasar syariah kembali bergeliat. Sebuah tanda-tanda perbaikan mulai terlihat. Hal ini ditandai melalui jumlah perbankan dari Al Baraqah Bahraian Bank dan Asian Finance Bank dari Qatar mulai menjajaki kemungkinan untuk memberikan layanan syariah di Indonesia.
Kepala Biro Penelitian dan Pengembangan Syariah Bank Indonesia, Mulya Siregar, disela pembukaan Festival Ekonomi Syariah di Surabaya, mengemukakan bahwa bank asing yang sedang menjajaki itu adalah Standard chartered Bank, City Bank dan ABN Amro Bank. Sedangkan bank umum dalam negeri yang segera masuk ke layanan syariah ada dua yakni BRI dan BNI.
Perbankan syariah di Indonesia selama ini belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Di kalangan masyarakat selama ini masih sering muncul diskusi-diskusi mengenai bunga bank. Dibandingkan dengan negara maju, seperti Inggris dan Australia tidak banyak mendiskusikan hal tersebut, tapi langsung menerapkan sistem keuangan yang tidak berbasis bunga.
Namun, dengan sosialisasi dan pendekatan ilmiah yang baik diharapkan perbankan maupun pembiayaan syariah di Indonesia akan terus tumbuh. Di Indonesia saat ini sudah ada 3 bank umum syariah, 26 unit usaha syariah, 111 BPR syariah dan “office chaneling” telah mencapai 1.195 unit.
Lembaga pembiayaan syariah di Indonesia selama ini telah menggeliat. Butkinya, peran pembiayaan syariah yang pada 2005 baru sekitar 2,5 persen, kini telah mencapai 2,8 persen dari total Rp27,9 triliun. Dana pihak ketiga yang ditempatkan di lembaga syariah yang sebelumnya baru sekitar 1,7 persen kini telah mencapai 1,85 persen dari total Rp24 triliun.
Berdasarkan kondisi tersebut diharapkan pengembangan syariah di Indonesia terus meningkat, bahkan jika dimungkinkan ada akselerasi atau percepatan. Sebelumnya syariah memberikan kontribusi berkisar 1,84 persen dari total aset perbankan. Tahun ini diharapkan bisa mencapai nilai nominal lima persen.
Meskipun untuk mencapai harapan tersebut tidak ringan tetapi dengan peran berbagai pihak terkait, syariah di Indonesia akan semakin berkembang. Pengamat perbankan dari STIE Perbanas Surabaya, Drs Abdul Mongid Phd berpendapat guna mengembangan layanan syariah di Indonesia tidak bisa dilakukan secara emosional, tetapi harus membangun sistem yang baik lebih dulu. Supada dapat berkembang, harus disiapkan sistem yang baik serta Sumber Daya Manusia yang memadai.
Festival Ekonomi Syariah yang digelar pada 21-24 Februari tersebut diikuti sebanyak 42 peserta baik dari kalangan perbankan syariah maupun lembaga non-bank syariah.
Dominansi Murabahah Pada Perbankan Syariah
Kinerja produk perbankan syariah di tahun 2007 yang menggunakan musyarakah sebesar 4.4 triliun yang mendominasi berkisar 15.77%, mudharabah sebesar 5.56 triliun yang mendominasi 19.96%, murabahah sebesar 16.55 triliun atau berkisar 59.24%, istishna berkisar 0.35 triliun atau sebesar 1.31% dan jenis lainnya berkisar 0.891 triliun atau sebesar 3.29%.
Hal ini terlihat bahwa murabahah mendominasi produk perbankan syariah. Murabahah sangat mirip dengan kredit konvensional pada bank umum. Masyarakat cenderung melakukan pemilihan pada produk tersebut dikarenakan memberikan sebuah kenyamanan bagi para nasabah pada saat bertransaksi. Piutang murabahah juga dibayar secara bulanan melalui sistem cicilan. Hal ini merupakan pembiayaan bank syariah melalui sebuah sistem jual beli dengan kesepakatan keuntungan berdasarkan waktu tertentu.
Bagi produk piutang salam, perbankan syariah tidak melakukan pembiayaan sedikit pun. Adiwarman mengatakan bahwa produk tersebut biasanya dilakukan untuk pembiayaan khususnya disektor pertanian. Perbankan syariah sangat sedikit yang melakukan pembiayaan pada sektor pertanian.
Adiwarman berpendapat bahwa kondisi di Indonesia sangat jauh berbeda dengan Malaysia berdasarkan aktivitas perbankan syariah. Hampir 100% transaksi yang dilakukan melalui perbankan syariah menggunakan piutang jenis murabahah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan asset perbankan syariah.
BI menyatakan bahwa ia akan memberikan insentif yang dilakukan pada perbankan syariah di negara tersebut. Deputi gubernur BI, Muliaman D. Hadad mengatakan bahwa insentif tersebut akan segera disiapkan oleh otoritas moneter. Sementara bentuk insentif tersebut masih akan dilakukan pengkajian lebih lanjut.
Pemberian insentif tersebut dilakukan sejalan dengan dukungan yang diberikan oleh bank sentral terhadap pengembangan perbankan syariah di tanah air. Selain insentif, ia juga menyinggung mengenai produk perbankan syariah yang masih sangat sedikit yang tidak sejalan dengan permintaan pangsa perbankan syariah yang semakin meningkat.
Artikel ini juga kembali menegaskan produk murabahah yang semakin menunjukan kekuatannya dalam dunia keuangan di Indonesia. Semoga hal tersebut merupakan berita yang cukup baik bagi perbankan syariah.
(disarikan dari investor daily dan Bank Indonesia)
Secangkir air yang penuh bermakna
Selamat bermain di blog kami…
Sarana belajar dan bercerita. Menuangkan segala pemikiran yang ada. Dimana kita tumbuh dan berkembang menjadi seseorang yang lebih baik. Selamat berkunjung….
Salam hangat.. Penuh cinta
Wulan & Hasto